Sejarah Museum Fatahillah
Diambil Dari Ssandhi Kendra

Sejarah Museum Fatahillah Jakarta Anak Muda Wajib Tahu – Hi, Anak Kost! Udah pernah berkunjungung ke Musum Fatahillah belum? Kalo belum, yuk sempatkan waktu untuk berkunjung. Kalau sudah, berarti kamu adalah orang yang berutung.

Kok beruntung? Ya, karena kamu pernah masuk ke salah satu tempat bersejarah untuk Kota Jakarta. Buat anak muda, kamu gak boleh ketinggalan cerita dari museum yang punya nama lain yaitu Museum Sejarah Jakarta.

Bagaimana Cerita Sejarah Museum Fatahillah?

Jauh sebelum punya nama Museum Fatahillah, bangunan ini punya cerita sejarah yang menarik banget. Penasaran? Simak sampai akhir ya!

Cerita Berdirinya Balai Kota di Fatahillah

Pada masa pemerintahan VOC, tepatnya pada tahun 1620, berdiri sebuah bangunan yang digunakan sebagai Balai Kota Batavia. Letaknya berada di dekat Kali Besar.

Lalu 6 tahun kemudian, tepatnya tahun 1626 bangunan ini dirobohkan oleh Pasukan Belanda. Tujuan Belanda membongkar bangunan ini adalah untuk menghadapi serangan pasukan Sultang Agung

Satu tahun setelah itu, yaitu tahun 1627, dibangun kembali gedung Balai Kota ke-2. pembanguan ini dilakukan atas perintah Gubernur – Jendral Jan Pieterszoon Coen. Lokasinya berada di Nieuwe Markt (sekarang Taman Fatahillah)

Sayangnya, struktur tanah Batavia saat itu masih labil. Jadi, tanah gak kuat menopang bangunan. Akhirnya bangunan Balai Kota ambruk secara perlahan-lahan.

Pada tahun 1707, atas perintah Gubernur – Jendral Joan Van Hoorn, bangunan ke-2 dibongkar dan dibangun kembali. Pada masa pembangunan ini, struktur tanah dipadatkan agar gak kejadian lagi peristiwa sebelumnya. Akhirnya, sampai sekarang bangunan Balai Kota Ke-3 ini kokoh sampai sekarang.

Peresmian Bangunan Balai Kota-3

Tepatnya pada tanggal 10 Juli 1710, Gubernur Jendral Abraham van Riebeeck meresmikan gedung baru ini. Pada saat itu bangunan belum sempurna. Setelah 2 tahun usai peresmian, bangunan ini baru rampung dengan sempurna.

Balai Kota Pasca Peresmian Pembanguna ke-3

Selama 2 abad ini, Balai Kota difungsikan banyak kegiatan. Diantanya adalah sebagai Kantor Administrasi, Kantor Dewan Pengadilan (College van Schepenen) dan Kantor Dewan Kota Praja (Ruud van Justitie).

Penjara di Balai Kota

Dalam kisahnya, Gedung Balai Kota ini punya penjara loh. Ada da jenis penjara yaitu penjara berbayar dan penjara bawah tanah

Penjara elit ini berada di belakang gedung utama. Buat orang yang yang mampu mebayar fasilitas penjara, maka mereka akan diletakkan disini. Meskipun gak se-elit yang dibayangkan, tapi penjara ini layak untuk ditempati oleh manusia.

Lalu, penjara bawah tanah terletak di bawah gedung. Berbeda jauh dengan penjara berbayar, penjara ini jauh dari kata layak untuk dihuni manusia. Minimnya cahaya penerangan dan hampir gak ditemukan ventilasi membuat banyak orang menderita di jalannya.

Gak sedikit para tahana  penjara bawah tanah menderita penyakit Kolera, tifus, kekurangan oksigen dan bahkan meninggal dunia.

Pada tahun 1846, akhirnya penjara ini ditutup dan dipindahkan ke sebelah timur Molenvliet Oost (saat ini Jalan Gajah Mada Jakarta)

Pernah Menjadi Kantor Pemerintah Jawa Barat

Pada abad ke-19an, wilayah Jakarta diperluas. Kegiatan Balai Kota dipindahkan ke daerah Tanah Abang West ( saat ini Jl. Abdul Muis No.3 Jak-pus). Kemudian pindah lagi ke Koningsplen Zuin (sekarang Jl. Merdeka Selatan No.8-9, Jak-Pus)

Selama Kegiatan Balai Kota gak di Fatahillah, gedung ini sempat menjadi Kantor Pemerintahan Jawa Bara pada tahun 1942

Digunakan Sebagai Markan Jepang

Pasukan Jepang juga pernah memakai gedung ini. Mereka menggunakannya sebagai kantor pengumpulan logistik Dai Nippon.

Pasca Kemerdekaan Indonesia

Setelah kembali ke tangan Indonesia, gedung ini digunakan lagi sebagai Kantor Pemerintahan Jawa-Barat. Kemudia Pada tahun 1970 menjadi Kantor Pemerintah Provinsi DKI.

Pada Tahun 1970, gedung ini disahkan menjadi Cagar Budaya. Nah, untuk menjaga kelestariannya. Gubernur DKI pada saat itu, Ali Sadikik, merenovas bangunan.

Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini diresmikan menjadi museum dan diberi nama Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta.

Baca Juga: Sejarah Chinatown Glodok yang Gak Boleh Dilupakan

Penutup

Duh, menarik banget kan cerita Sejarah Museum Fatahillah. Atur waktu mu dan segera berkunjung le museum ini biar kamu bisa merasakana langsung berada di bangunan nan megah dan penuh cerita sejarah.  Belum afdol rasanya kalau pergi ata tinggal di Jakarta tapi gak mampir ke museum ini.

Oh ya, buat kamu yang mau ke Jakarta jangan lupa nginepnya di D’paragon ya. Jaraknya dekat, kamu Cuma butuh waktu sekitar 16 menit untuk sampai di Museum Fatahillah.

Di D’paragon, kamu bisa pilih fasilitas penginapan yang bisa kamu pilih sesuai ke ke kebutuhan. Cek aja website D’paragon dan instagramnya biar tau infi lengkap. Biar makin murah reservasinya lewat aplikasi D’paragon aja ya karena ada Promo menarik. Yuk nginep di D’paragon!

Leave a Reply